Perjuangan Orang Mapnan Mempertahankan Hutan di Kabupaten Berau: Kritik Terhadap Antroposentrisme dalam Pengelolaan SDA

Abstract

Krisis lingkungan yang semakin memburuk merupakan konsekuensi dari dominasi anthroposentrisme yang memandang keberadaan alam hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia, sehingga pengelolaannya diorientasikan untuk produksi komoditas dan mengabaikan keberlanjutannya. Hutan tropis, yang memiliki fungsi vital dalam menstabilkan iklim bumi-pun menjadi sasaran eksploitasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisa bentuk-bentuk perjuangan Orang Mapnan dalam mempertahankan keberlanjutan hutan tropis di Kampung Long Ayap, Kab. Berau, Kalimantan Timur. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran Orang Mapnan terus berkembang berdasar pada fakta deforestasi yang terus meningkat. Bentuk-bentuk perjuangan yang dilakukan adalah mempertahankan corak kehidupan berburu dan meramu meskipun dihadapkan dengan pengaruh indikator-indikator kemajuan dan kebahagiaan produk anthroposentrisme; menata ulang sistem perladangan agar pembukaan hutan perawan untuk kepentingan perladangan masyarakat dapat dihentikan; menolak konversi hutan untuk perkebunan sawit baru; menetapkan visi kolektif yang mengusung keberlanjutan lingkungan hidup; mempromosikan model pengelolaan hutan secara lestari untuk tujuan ekonomi melalui program agroforestry kopi, yang kemudian ditetapkan menjadi model pengelolaan yang dibolehkan pada hutan APL di Kampung Long Ayap. Dengan demikian perjuangan yang dilakukan dimulai dari meredam berkembangnya watak anthroposentris dalam diri mereka, dan kemudian membendung masuknya elemen-elemen luar melakukan pengelolaan hutan yang destruktif. Perjuangan yang dilakukan sejauh ini cukup berhasil, meski ke depan diprediksi akan menghadapi tantangan yang lebih kompleks.