MANHAJ TAFSIR AL-MIZAN FI TAFSIR AL-QUR’AN Karya Muhammad Husain Tabataba’i

Abstract

Secara teologis-normatif, kebenaran al-Qur’an adalah mutlak, sebab ia berasal dari Dzat Yang Maha Benar dan Mutlak. Namun demikian, setelah yang mutlak itu dipahami, dan dimasukkan dalam disket pemikiran manusia (mufassir), ia berubah menjadi relatif kebenarannya, karena tidak mungkin yang relatif itu (yaitu pemikiran manusia) akan mampu menangkap seratus persen dari yang Maha Mutlak tersebut. Oleh sebab itu, meskipun teks al-Qur’an itu tunggal, namun pada kenyataannya hasil dari pemahaman dan penafsiran terhadap teks itu akan mengalami keragaman, bahkan kadang tampak ada kontradiksi antara satu dengan lainnya. Seperti dalam kitab tafsir al-Mi>za>n karya T{aba>t}a>ba’i yang penafsirannya dengan cara menjelaskan ayat dengan ayat, riwayat. Kemudian beliau juga menjelaskan ayat dengan berbagai pendekatan, seperti filsafat (falsafy), sosiologis (ijtima’i), historis (ta>rikhy), ilmiah (‘ilmy), ilmiah dan etika (‘ilmy wa akhlaqy), ilmiah dan filosofis (‘ilmy wa falsafy), dan rassional dan qur’ani (‘aqly wa qur’any).