KONTROVERSI KEPEMIMPINAN PUBLIK KAUM HAWA PERSPEKTIF HADIS DALAM AL-KUTUB AL-SITTAH

Abstract

Kepemimpinan perempuan di ranah publik sering menuai kontoversi dan pro-kontra di tengah masyarakat. Pemicunya adalah fakta terjadinya multi-tafsir terhadap sebuah hadis Nabi yang menyatakan tidaklah beruntung sekelompok kaum yang menyerahkan urusannya pada perempuan. Sebagian kalangan menganggap hadis yang terdapat dalam al-kutub al-sittah ini sebagai dalil pelarangan perempuan tampil sebagai pemimpin publik. Padahal, jika dikaji dari segi asbāb al-nuzūl-nya, hadis ini mengisahkan kasus yang sangat spesifik menyangkut suksesi Kerajaan Persi yang saat itu menobatkan Bawran binti Shayrawayh bin Kisra bin Barwayz. Dalam konteks negara demokrasi dengan perkembangan sistem ketatanegaraan yang cukup pesat saat ini, tentunya hadis di atas perlu pemberian konteks makna yang relevan sehingga tidak bergeser dari substansi ajaran syari’ah yang paripurna dan abadi.