Praksis Pastoral Terhadap Pelaut di Gereja Toraja Klasis Makale Selatan

Abstract

The aim to be achived in this paper is to analyze the relevant pastoral services (praxis) for the problems of seafares in the service area of the Southern  Makale Classics Toraja Church. In this paper, the approach method that i use is a qualitative approach. Qualitative research is research that intends or aims to understand the phenomena experienced by research subjects sich as perseptual behavior, motivation, action, etc., holistically, and by means of description in the form of words and language. In addition, the authors also use literature studies. Based on the results obtained from field research and literature riview, the author can conclude that basically the servants (counselors) understand their duties but they have not been able to prove it in the world of service specifically to seafarers (theoretical). This is what makes the image seafarer continue to be under the bad quotes and also experiencing such dire conditions. That is what makes sailors continue to live in deep inner wounds. Servants should make visits, contact seafarers who are far from family, regularly refer seamen, make no distinctions about seafarers and be trustworthy friends. These are the practical things that sailors desperately need. Abstrak: Tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan ini adalah hendak menganalis pelayanan pastoral (praksis) yang relevan bagi permasalahan pelaut dalam wilayah Pelayanan Gereja Toraja Klasis Makale Selatan. Dalam karya tulisan ini metode pendekatan yang penulis gunakan adalah metode pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud atau bertujuan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku persepsi, motivasi, tindakan, dll, secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa. Selain itu penulis juga menggunakan studi literature atau kajian pustaka. Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian lapangan dan kajian pustaka, penulis dapat menyimpulkan bahwa pada dasarnya para pelayan (konselor) paham akan tugasnya tetapi mereka belum mampu membuktikan hal itu dalam dunia pelayanan secara khusus kepada para pelaut (teoritis). Hal itulah yang mebuat citra pelaut terkesan terus berada  dalam tanda kutip buruk dan juga mengalami kondisi yang memprihatinkan. Hal itulah yang mebuat para pelaut terus hidup dalam luka batin yang mendalam. Para pelayan seharusnya melakukan perkunjungan, menghubungi para pelaut yang jauh dari kelaurga, rutin mendokan pelaut, tidak mebeda-bedakan pelaut dan menjadi sahabat yang dapat dipercaya. Itulah hal-hal praksis yang sangat dibutuhkan pelaut.