Teologi Fagogoru: Mewujudkan Perdamaian Berbasis Budaya

Abstract

Abstract: This paper analyzes contextual theology based on peace through the philosophical culture of Fagogoru in Lelilef Sawai village and Lelilef Woebulen village, Central Halmahera district. In this study, the method used a qualitative method with interview techniques, observation and literature study. The results of the study found that the values contained in Fagogoru's philosophy were unity, brotherhood, and harmony. These three values are come from life practices that appear in three forms, namely babari or mutual cooperation activities, famasie or acts of loving each other and faderere or acts of helping each other. Based on this, GMIH can elaborate Fagoogoru's philosophical culture in the light of Christian faith as the basis for theology in society. In carrying out its role as a social institution, GMIH is called upon to care for the interfaith brotherly relations formed through the Fagogoru Philosophy culture as the basis of strength to build and apply the theology of peace in common life. Thus, the theology of peace based on Fagogoru's philosophy is not only at the conceptual level but is come from the reality of people's lives.Keyword: Fagogoru, GMIH, Lelilef Sawai, Lelilef Woebulen, Peace. Abstrak: Tulisan ini menganalisis tentang teologi kontekstual yang berbasis perdamaian melalui budaya falsafah Fagogoru di desa Lelilef Sawai dan desa Lelilef Woebulen, Kecamatan Halmahera Tengah. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan ialah metode kualitatif dengan teknik wawancara, observasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menemukan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam falsafah Fagogoru ialah persatuan, persaudaraan, dan kerukunan. Ketiga nilai ini lahir dari praktik hidup yang nampak dalam tiga bentuk, yakni babari atau kegiatan gotong royong, famasie atau tindakan saling menyayangi dan faderere atau tindakan saling menolong. Berdasarkan hal inilah, GMIH dapat mengelaborasikan budaya falsafah Fagoogoru dalam terang iman Kristen sebagai dasar berteologi di tengah masyarakat. Dalam melakukan peran sebagai lembaga sosial, GMIH terpanggil untuk merawat relasi-relasi persaudaraan antaragama yang terbentuk melalui budaya Falsafah Fagogoru sebagai dasar kekuatan untuk membangun dan menerapkan teologi perdamaian dalam kehidupan bersama.  Dengan demikian, teologi perdamaian berbasis falsafah Fagogoru tidak hanya sekedar pada tataran konseptual melainkan lahir dari realitas kehidupan masyarakat.Kata Kunci: Fagogoru, GMIH, Lelilef Sawai, Lelilef Woebulen, Perdamaian.