Pengaruh Persepsi Tradisi Tahlilan di Kalangan Masyarakat Muhammadiyah terhadap Relasi Sosial di Desa Gulurejo Lendah Kulon Progo Yogyakarta

Abstract

Like the understood by the common view that tahlilan is a very stronger tradition of the community of Nahdhatul Ulama'. Its, because NU society makes tahlilan as one of his trademark. However, over time, now tahlilan not just implemented by NU community, but Muhammadiyah community which initially clearly reject tahlilan because it is considered as bid’ah, now can accept and implement it. This phenomenon according to the author is very unique to be reviewed. In this case the author tries to take the example of a group of community Muhammadiyah in Gulurejo Village, District Lendah, Kulon Progo Regency, Yogyakarta as research subjects. This research explanations about the influence of perceptions of tahlilan tradition among the Muhammadiyah community of Gulurejo Village on social relations. The purpose of this research is to know the perception of Muhammadiyah community of Gulurejo Village about the existence of tahlilan and the extent of its implication in social relation among the people in Gulurejo Village. Data in this research is obtained through observation and in-depth interview with some of Muhammadiyah of Gulurejo Village. Data collected through the method of written documents such as village archives and some stories from local community figures related to this research. Then the data obtained were analyzed by using qualitative descriptive method, that is to describe systematically and accurately about facts and characteristics about the population. From this research, it was found that the tradition of tahlilan held by the Muhammadiyah community in Gulurejo Village is a manifestation of social empathy towards others and its existence can reduce their individualistic attitude. [Seperti yang dipahami oleh pandangan umum bahwa tahlilan merupakan tradisi yang sangat kental dengan masyarakat Nahdhatul Ulama’. Salah satu sebabnya, karena masyarakat NU menjadikan tahlilan sebagai salah satu dari ciri khasnya. Akan tetapi seiring dengan berubahnya waktu, kini tahlilan tidak lagi dijalankan masyarakat NU saja, masyarakat Muhammadiyah yang pada awalnya jelas-jelas menolak tahlilan karena dianggap sebagai bid’ah, kini sudah bisa menerima dan melaksanakannya. Fenomena seperti inilah menurut penulis sangat unik untuk dikaji ulang. Dalam hal ini penulis mencoba mengambil contoh dari sekelompok masyarakat Muhaammadiyah di Desa Gulurejo, Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulon Progo, DIY sebagai subyek penelitian. Penelitian ini mengulas tentang pengaruh persepsi tradisi tahlilan di kalangan masyarakat Muhammadiyah Desa Gulurejo terhadap relasi sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi masyarakat Muhammadiyah Desa Gulurejo terhadap keberadaan tahlilan dan sejauh mana implikasinya di dalam relasi sosial antar warga di Desa Gulurejo. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam dengan beberapa warga Muhammadiyah Desa Gulurejo. Data-data yang dikumpulkan melalui metode dokumen-dokumen tertulis seperti arsip-arsip desa dan beberapa cerita dari tokoh-tokoh masyarakat setempat yang berhubungan dengan penelitian ini. Kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu menggambarkan secara sistematis dan akurat tentang fakta-fakta serta karakteristik mengenai populasi yang diteliti. Dari penelitian ini, ditemukan bahwa tradisi tahlilan yang dilaksanakan oleh masyarakat Muhammadiyah di Desa Gulurejo merupakan wujud dari empati sosial terhadap orang lain dan keberadaannya dapat mereduksi sikap individualistik mereka.]