Tarekat Syattariyah dan Alawiyah: Pemikiran dan Dinamika Jaringan Islam di Sulawesi Tengah Abab XVII-XX M

Abstract

Pemikiran Islam di kawasan Sulawesi Tengah tumbuh sejak abad XVII. Dato Karama meletakkan dasar perwajahan Islam di Sulawesi tengah. Sedangkan Sayyid Idrus bin Salim Aljufrie melanjutkan estafet perkembangan Islam di Sulawesi Tengah dengan mengembangkan pendidikan Islam modern pada abad XX. Keduanya memiliki ciri khas tersendiri dalam menentukan perkembangan Islam melalui metode Islamisasi adaptif dan modernis. Akhirnya Islam menjadi pranata yang integral di tengah masyarakat Sulawesi Tengah. Kedua figur tersebut juga dikenal sebagai penganut tarekat Syattariyah dan Alawiyyah. Tulisan ini memanfaatkan metode sejarah sebagaimana dijabarakan Kuntowijoyo (2006), bahwa peristiwa sejarah tidak hanya menujukkan sisi periodik satu peristiwa, namun arah dan gerak peristiwa yang dapat mengubah sebuah fenomena atau peristiwa dari satu objek. Sebuah persitiwa historis membutuhkan ilmu bantu untuk membedah setiap sisi dari persitiwa yang telah terjadi di masa lalu. Oleh karena itu, Sartono (1982) berkesimpulan jika narasi sejarah idealnya ditulis dengan memperhatikan penjelasan kausalitas dan determiner dalam satu persitiwa. Akhirnya tulisan ini berkesimpulan suksesnya poros Islamisasi di Sulawesi tidak sekadar kronik sejarah, lebih jauh ia berimplikasi pada historiografi yang optimis dimana pemikiran dan dinamika gerakan Islam di Sulawesi Tengah pada sampai pada abad XX memperkuat posisi serta warisan pemikiran sejarah Islam di Sulawesi Tengah.