INTERNALISASI NILAI-NILAI TASAWUF DI PONDOK PESANTREN AL-AMIEN PRENDUAN

Abstract

Ilmu tasawuf merupakan suatu ilmu yang mengutamakan diri manusia agar memiliki  kebersihan ruhani dan jiwa. Di Pondok Pesantren al-Amien Prenduan menanamkan nilai-nilai yang ada dalam ilmu tasawuf. Hal ini bertujuan agar para santri selalu taat pada perintah Allah Swt. dan memiliki nilai-nilai persatuan antar-sesama santri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian lapangan. Adapun metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data tersebut kemudian dianalisis dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan, pertama, proses internalisasi nilai-nilai tasawuf melalui nilai Ilahi dan nilai insani di Pondok Pesantren al-Amien Prenduan; kedua, bahwa faktor pendukung dalam internalisasi nilai tasawuf melalui upaya pendampingan pendidikan selama 24 jam dan suri tauladan yang baik oleh para kiai dan para guru. Sedangkan faktor penghambat internalisasi tersebut antara lain para santri masih banyak yang melanggar disiplin pondok dan karena latar belakang keberagaman suku yang berbeda-beda baik dari Jawa, luar Jawa atau bahkan dari luar Indonesia. Sufism is a science that prioritizes human beings in order to have the cleanliness of the soul and spirit. The boarding school of al-Amien Prenduan instilled the values that exist in the science of Sufism. The goal is for the students to always obey the command of Allah Almighty and have the values of unity among fellow students. This study uses a descriptive qualitative approach to the type of field research. The data collection method uses observation, interview and documentation. Then the data is analyzed with data reduction, data presentation and conclusion withdrawal. The results of this study show that: 1) the process of internalization of the Sufism values in boarding schools through divine values and human values; 2) supporting factors in internalizing the value of Sufism with the assistance and education for 24 hours and good suri tauladan from the kiai and teachers. While the inhibitory factor is among the students are still many who violate the discipline of the cottage and because of the background of the diversity of different tribes both from Java, outside Java or even outside Indonesia.