PENYEBAB KONFLIK DAN SOLUSINYA DALAM AL- QUR’AN

Abstract

Beberapa kasus konflik dan tindak kekerasan yang terjadi di masyarakat telah menyebabkan masyarakat hidup dalam ketidaknyamanan. Seperti, tawuran antar warga Manggis dan Sawo di Tebet, Jakarta Selatan2 atau pengusiran warga Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur3 yang terjadi beberapa tahun lalu, sedangkan sejatinya manusia menginginkan hidup yang rukun dan damai. Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang di dalamnya mengatur segala aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu, di dalamnya tidak hanya berisi tentang pokok-pokok ajaran yang berhubungan antara manusia dengan Tuhannya saja, tetapi juga mengajarkan masalah-masalah yang berhubungan manusia dengan sesama, termasuk di dalamnya mengajarkan tata cara manusia hidup dalam bermasyarakat yang hal ini sesuai dengan pernyataan Islam sendiri bahwa agama Islam adalah rahmat bagi semesta alam “Rahmatan lil ‘Alamîn” Berangkat dari pernyataan di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang penyebab konflik dan solusinya dalam al-Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal yang menjadi penyebab konflik yang terjadi di masyarakat yang terdapat di dalam al-Qur’an dan solusi yang ditawarkan al-Qur’an sendiri dalam meredam atau menghindari konflik di tengah masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research) yang bersifat kualitatif dengan menggunakan metode tafsir maudu’i (tematik) dengan pendekatan historis-sosiologis. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa pertama, penyebab konflik meliputi, al-Taasyub (fanatisme), al-Ghulu (Ekstrim), al-Syukhriya (merendahkan), Tanâbazû bi al-Qâb (memberi julukan negatif), Sû’u Zhon (buruk sangka), dan al-Zulm (melakukan tindakan kezaliman). Kedua, solusi terhadap konflik tersebut meliputi, Tabayun (klarifikasi), Tahkîm (mediasi), Musyawarah, saling memaafkan, Ishlâh (perdamaian), Ihsân (berbuat baik) dan memberikan jaminan kebebasan kepada masyrakat sesuai dengan aturan hukum kemasyarakatan dan undang–undang yang berlaku di mana ia tinggal.