Ruang Pembebasan Sebagai Politik Perlawanan Perempuan NU

Abstract

Artikel ini adalah tentang perlawanan politik perempuan NU, yang ditelusuri dengan mengidentifikasi pemikiran dan tindakan mereka untuk membebaskan diri dari kekerasan. Tujuan dari karya ilmiah ini adalah untuk mengidentifikasi (1) pemikiran para perempuan NU mainstream dan non-mainstream tentang kekerasan, (2) tindakan apa yang diambil oleh perempuan NU mainstream dan non-mainstream sebagai preskripsi untuk membebaskan perempuan dari kekerasan. Penelitian ini melihat politik mikro dan politik informal, dengan menekankan kepada individu perempuan, sejalan dengan semboyan dari kaum feminis, yakni the personal is political. Dengan menggunakan perspektif Feminis Postmodern dan model Carnivalesque dari Mikhail Bakhtin, penulis mengidentifikasi perlawanan yang dibuat oleh perempuan NU non-mainstream. Karya ilmiah ini menemukan bahwa pemikiran perempuan NU non-mainstream menafsirkan kekerasan sebagai hal yang bersifat spasial. Oleh karena itu solusi yang ditawarkan untuk membebaskan perempuan dari kekerasan adalah dengan menghindari ruang dimana ia mendapatkan kekerasan dan dengan menciptakan ruang untuk pembebasan. Ruang pembebasan ini berupa forum-forum informal yang ada dilingkungan dimana mereka tinggal dan beraktifitas.[This article is about the political resistance of NU women, which is carried out by raising thoughts and actions in order to free themselves from violence. The purpose of this work is to identify (1) the thoughts of mainstream and non-mainstream NU women about violence, (2) what actions were taken by mainstream and non-mainstream NU women as prescripts to liberate women from the violence. This study looking at micro politics, informal politics, by emphasizing the personal is political. With the Postmodern Feminist perspective and the Carnivalesque model from Mikhail Bakhtin, the author identifies the resistance made by non-mainstream NU women. This scientific work found that the thoughts of non-mainstream NU women interpreted violence as spatial, and therefore the solutions offered were in the form of efforts to get out of the space of violence and create a space for liberation take advantage of informal forums around them.]