Stereotip Mahasiswa IAIN Pontianak terhadap Agama Baha’i

Abstract

In general, people of West Kalimantan have slight understanding relating to the existence of Baha’i religion. They built some stereotypes and judgments based on interaction and daily communication with Baha’i followers. This research focuses on how the under-graduate student of State Institute of Islamic studies (IAIN) Pontianak perceive and understand Baha’i during the class of Interreligious Communication (Komunikasi Lintas Agama). Dealing with the under-graduate student of the seventh semester, this research aims to analyze such paradigm construction through Thung Ju Lan idea of “foreigners” and “cultural differences”. This research found that students have constructed their perception on Baha’i through theological denial or cultural assessment of other religious tradition. [Secara umum penduduk Kallimantan Barat memiliki pemahaman yang tidak mendalam terkait dengan agama Baha’i. Mereka membangun prasangka, stereotip, dan keyakinan sendiri tentang Baha’i, berdasar pada interksi dan komunikasi sehari-sehari dengan pemeluk Baha’i. Penelitian ini fokus pada bagaimana mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak membangun pandangan dan pemahaman mereka terhadap Baha’i dalam kelas matakuliah Komunikasi Lintas Agama. Meneliti para mahasiswa yang duduk di semester ke-7, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagunan kerangka berpikir tersebut melalui konsepnya Thung Ju Lan, foreigners and cultural differences. Penelitian ini menemukan bahwa sebagian mahasiswa membangun persepsi teologis terkait agama Baha’i sebagai “sesuatu yang semestinya ditolak” dan “tidak sesuai dengan agama Islam.]