KONTRADIKSI DALAM KONSEP POLITIK ISLAM EKSKLUSIF SAYYID QUTHB

Abstract

Perkembangan kelompok Islam eksklusif yang mengklaim keimanan dan ideologinya paling benar ketimbang yang lainnya semakin merebak dewasa ini. Kelompok itu tidak hanya terwujud dalam gerakan kultural saja, akan tetapi juga mewujud dalam gerakan politik. Di Indonesia, gerakan ini digaungkan oleh kelompok-kelompok yang mempropagandakan berlakunya syariat Islam sebagai undang-undang dan khilafah Islamiyah sebagai sistem negara. Artikel ini berusaha untuk membahas tentang pemikiran politik Sayyid Quthb yang dinilai sebagai seorang inspirator para pemikir politik Islam eksklusif setelahnya. Dengan menggunakan metode kritik intern dan ekstern, penulis menyimpulkan bahwa pemikiran Sayyid Quthb sebenarnya sangat dipengaruhi oleh dominasi konteks konflik lokal Mesir maka dari itu masih perlu dipertanyakan tentang keuniversalan konsep-konsepnya. Dalam mengikuti manhaj al-Qur’an dan para Salaf al-salih, Sayyid Quthb kurang kritis tentang mengapa manhaj tersebut digunakan sehingga dalam pergerakan politiknya ia menggunakan manhaj yang tidak relevan bila dibawa ke zaman modern. The development of Islamic exclusive sect who claim truest faith and ideology than the another is more wide spread today. The sect is not only manifested in the cultural movement, but also manifests themselves in political movements. This movement spread by sect that propagate into force of Islamic law as the law and the Islamic khilafah as a state system in Indonesia. This article discusses about the political thought of Sayyid Quthb considered as an inspiration exclusive Islamic political thinkers there after. By using internal and external criticism method, the authors conclude that the thought of Sayyid Quthb in factstrongly influenced by the dominance of the Egyptian context of local conflicts and therefore still need to be questioned about the universality of concept. Infollowing the Qur’an and the manhaj of the Salaf al-salih, Sayyid Quthbless critical about why the manhaj used. So in the political movement, he usesthe irrelevant manhaj to applied in the modern era.