IDEOLOGI KEBANGSAAN DALAM PEMBELAJARAN KITAB KUNING DI PESANTR¬EN PKP MANADO

Abstract

Inti pesantren adalah kitab kuning, yang dengannya dipastikan ada ulama yang menjadi guru dan panutan. Kitab kuninglah yang menjadi penentu kelayakan dan kesuksesan sebuah pesantren sebagai wadah pencetak ulama. Karena itu, melalui penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara, observasi dan studi pustaka. Maka tulisan ini muncul untuk memberikan gambaran pembelajaran kitab kuning di pesantren PKP Manado, yang menghasilkan temuan tentang adanya sebuah nilai kebangsaan yang tertanam sejak awal munculnya pesantren di nusantara, dan bergulir sampai saat ini. Kaum santri ternyata memelopori gerakan perlawanan terhadap penjajah dengan semangat jihad, dan jaringan santri inilah juga yang melakukan perluasan pembelajaran kitab kuning sampai ke Manado Sulawesi Utara, seperti yang di bawa oleh kiyai Mojo di Jaton, Imam Bonjol di Pineleng, dan Arsyad Thawil Albanteni di Manado. Mereka inilah yang menyebar virus-virus tradisi pembelajaran kitab kuning di tengah pluralitas masyakarat Manado, yang memunculkan ulama-ulama seperti Syekh Abdussamad Bachdar (Tumbak 1918), Syekh Abdurrahman Mulahele dan Ahmad Mulahele di Kampung Arab Manado. KH. Idris Lamande, KH. Nur Hasan Nasir, KH.Abraham, KH. Abdurrahman Latukau, KH. Hasyim Arsyad, dan KH. Fauzi Nurani. Tiga ulama yang terakhir inilah yang kemudian menjadi tenaga pengajar kitab kuning di pesantren PKP Manado yang mulai melakukan pembelajaran pada tahun 1978. Kitab-kitab yang diajarkan di pesantren PKP Manado saat ini adalah, aqidatul awwam, arba’in annwawi, fathul qarib, ta’limul muta’lim, dan nahwu sharaf. Kitab-kitab ini dipelajari setiap minggu antara magrib dan isya oleh kelas 2 dan 3 dari Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah, dengan hanya dibimbing oleh kiyai Syarif Azhar. Penyajian pembelajaran dilakukan dengan cara kiyai membaca teks kitab dan menerjemahkannya secara perlahan, lalu menjelaskan maksudnya dari berbagai perspektif, termasuk menyinggung soal kebangsaan, seperti dalam penjelasan kata tablig kitab qawaidul awwam yang menjelaskan posisi santri sebagai, pembawa pesan hikmah agar tampil ramah di antara masyarakat yang mayoritas Kristen, sebuah pesan untuk menghargai perbedaan dalam bingkai kesatuan negara Republik Indonesia.