PENOLAKAN MASYARAKAT TERHADAP GERAKAN DAKWAH MAJLIS TAFSIR AL-QUR’AN (MTA) DI KEBUMEN

Abstract

Penelitian ini mengkaji dakwah Majlis Tafsir Al-Qur’an di kota Kebumen. Majlis Tafsir Al-Qur’an beranggapan tradisi Islam tidak sesuai dengan tuntutan ajaran Al-Qur’an dan sunnah yang telah ditetapkan oleh Nabi. Saat ini gerakan Majlis Tafsir Al-Qur’an sudah berkembang hingga berbagai daerah-daerah di Indonesia, masyarakat memiliki dasar teologi dan ideologi yang kuat. Dakwah Majlis Tafsir Al-Aqur’an memberikan beberapa respon dari masyarakat. Masyarakat menolak dengan beberapa faktor seperti perbedaan ajaran perbedaan ideologi, dan budaya menjadi salah satu masalah dakwah Majlis Tafsir Al-Qur’an karena tidak sesuai dengan budaya masyarakat setempat, hingga memberikan perubahan ketidaknyamanan masyarakat karena telah terusik. Artikel ini mencoba untuk memperluas kajian islam tentang isu organisasi masyarakat berbasis agama Islam pada tiga Desa Kecamatan Adimulyo Kebumen. Kajian ini juga menggunakan beberapa konflik yang sama di daerah yang berbeda seperti Bojonegoro, Blora, Sragen, Gunungkidul, dan Purworejo. Majlis Tafsir Al-Qur’an sejak awal dakwah pengajian ini dianggap sesat oleh sebagian masyarakat, konflik yang terjadi antara masyarakat dan Majlis Tafsir Al-Qur’an tidak hanya pada ideologi saja tetapi juga menimbulkan kekerasan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka melalui media sosial, dan literature terkait. Penolakan yang terjadi merupakan segmen dakwah yang berbeda-beda dapat mendatangkan respon baik penolakan atau penerimaan dari masyarakat.Kata kunci: dakwah majlis tafsir al-qur’an, konflik, masyarakat beragamaThis study examines the da’wah of the Majlis Tafsir Al-Qur’an in the city of Kebumen. The Majlis Tafsir Al-Qur’an considers the Islamic tradition is not in accordance with the demands of the teachings of the Qur’an and the sunnah set by the Prophet. At present the Majlis Tafsir Al-Qur’an movement has developed to various regions in Indonesia, the community has a strong theology and ideology basis. Da’wah Majlis Tafsir Al-Aqur’an gives some responses from the public. The community refused with several factors such as differences in the teachings of ideological differences, and culture became one of the problems of preaching the Majlis Tafsir Al-Qur’an because it was not in accordance with the culture of the local community, so as to provide changes in community discomfort because it was disturbed. This article tries to expand Islamic studies on the issue of Islamic community-based organizations in three villages in the Adimulyo Kebumen sub-district. This study also uses some of the same conflicts in different areas such as Bojonegoro, Blora, Sragen, Gunungkidul, and Purworejo. Majlis Tafsir Al-Qur’an since the beginning of this preaching session is considered heretical by some people, the conflict that occurs between the community and the Majlis Tafsir Al-Qur’an is not only on ideology but also causes violence. The method used in this research is literature study through social media, and related literature. Rejection that occurs is a different da’wah segment can bring a response either rejection or acceptance from the community.Keywords: da’wah majlis tafsir al-quran, conflict, religious society