Analisa Postur Kerja Manual Material Handling (MMH) pada Karyawan Bagian Pembuatan Block Menggunakan Metode Rapid Upper Limb Assessment (RULA) (Studi Kasus: PT Asia Forestama Raya)

Abstract

Sistem kerja yang tidak ergonomis dalam satu perusahaan seringkali kurang mendapat perhatian dari pihak manajemen perusahaan. Salah satu bagian sistem yaitu pekerja. Pekerja yang ada di suatu pabrik biasanya banyak melakukan sikap dan posisi kerja yang kurang ergonomis. Hal ini secara sadar ataupun tidak akan berpengaruh terhadap produktifitas, efisiensi dan efektivitas pekerja dalam menyelesaikannya. Posisi kerja yang dimaksud seperti postur kerja dengan aktivitas Manual Material Handling (MMH). Cidera atau kecelakaan kerja yang terjadi akibat aktivitas MMH ini selain merugikan pekerja secara langsung atas rasa sakit yang diderita, juga berdampak buruk bagi kinerja perusahaan yaitu penurunan produktivitas perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode Rapid Upper Limb Assessment (RULA). RULA adalah  metode  yang dikembangkan dalam bidang ergonomi yang menginvestigasikan dan menilai posisi kerja yang dilakukan oleh  tubuh  bagian atas. PT. Asia Forestama Raya merupakan sebuah industri yang memproduksi plywood untuk ekspor maupun lokal. Dimana pada perusahaan ini masih terdapat aktivitas manual yaitu pada bagian pembuatan block. Pada penelitian ini di bagikan kuesioner Nordic Body Map untuk mengidentifikasi keluhan apa saja yang dirasakan oleh pekerja. Keluhan yang dirasakan pekerja terasa hampir pada seluruh anggota tubuh pekerja. Keluhan yang paling banyak dirasakan pekerja diantaranya adalah sakit pada punggung sebesar 47,14%. Sedangkan sakit pada pinggang adalah sebesar 44,30%, serta sakit pergelangan tangan kanan dan kiri masing-masing sebesar 44,17% dan 44,30%.   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisa kategori postur  kerja dari pekerja pembuatan block    di  PT. Asia Forestama Raya. Dari pengolahan data yang telah dilakukan, pada posisi pertama dan kedua didapat action level 4 dengan skor akhir sebesar 7, berarti kondisi ini berbahaya sehingga pemeriksaan dan perubahan posisi kerja harus dilakukan (saat itu juga). Hal ini disebabkan postur kerja ini dilakukan dalam rentang waktu berulang sehingga dapat membahayakan pekerjanya. Sedangkan pada postur kerja ketiga dan kelima terlihat bahwa postur kerja berada pada action level 3 dengan besar skor akhir adalah 5. Dimana pada level ini diperlukan perbaikan postur kerja se-segera mungkin. Berbeda pada postur kerja keempat, didapat skor akhir sebesar 4, postur kerja ini termasuk dalam kategori action level 2 yang berarti tidak begitu membahayakan pekerjanya. Namun akan berbahaya jika dilakukan terus-menerus sehingga apabila semakin cepat dilakukan perbaikan akan lebih baik.