MEMAHAMI BAHASA SUFISTIK KAUM SALIKIN (Studi Kasus Pengamal Tarekat Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah di Pondok Pesantren DarussalamBermi Lombok Barat Nusa Tenggara Barat)

Abstract

Memahami bahasa tasawuf menjadi tantangan tersendiri dalam kajian dan penelitian keislaman. Menjadi tantangan karena sifat dasarnya yang simbolik, misterius dan personal. Diperlukan mekanisme kebahasaan tersendiri untuk memahami makna-makna yang dikandung oleh ungkapan-ungkapan sufistik. Namun dalam perkembangannya, dunia tasawuf mengandung dua aliran besar, yaitu tasawuf ‘amali yang dijelaskan oleh ilmu mu’amalah dan tasawuf falsafi yang dijelaskan oleh ilmu mukasyafah. Yang pertama direpresentasi oleh Imam al-Gazali dan yang kedua oleh Syekh Ibnu ‘Arabi. Pergerakan bahasa atau ungkapan sufistik di wilayah tasawuf ‘amali bersifat menyempit setelah mengalami pembakuan dan pelembagaan pada tarekat-tarekat setelah Imam al-Gazali, seperti Tarekat Qadiriyah, Rifa’iyah, Ahmadiyah, Syadziliyah dan lain-lain. Bahasa sufistik pun dalam konteks ini bersifat pengajaran untuk membimbing perjalanan para salik dalam menempuh maqamat dan menyikapi ahwal yang mereka alami di tarekat yang mereka ikuti. Komunikasi antar sesama pemeluk tarekat kemudian terejawantahkan dalam zikir, shalawat dan doa yang mereka amalkan. Penelitian ini memfokuskan diri untuk melihat Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) di Pondok Pesantren Darussalam Bermi Gerung Lombok Barat NTB; zikir, wirid dan doa yang diamalkan sebagai manifestasi ungkapan sufistik mereka, interaksi mereka ke dalam (sesama pemeluk Tarekat) dan keluar (dengan masyarakat) untuk melihat pemahaman dan pengamalan para salik terhadap ajaran Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Lokasi peneliti dipilih karena pengaruh dan pengikutnya yang cukup banyak, tersebar di Lombok Barat, Kota Mataram dan Lombok Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ungkapan-ungkapan yang biasa beredar di kalangan para salikin pengamal TQN di lokasi penelitian adalah ayat-ayat al-Qur’an, hadits dan ungkapan-ungkapan para pendiri dan mursyid TQN yang bisa berupa zikir, shalawat, doa dan untaian-untaian hikmah sebagai pembimbing mereka dalam menjalani suluk di lingkungan TQN. Sedangkan pemahaman dan pengamalan mereka terhadap ungkapan-ungkapan itu telah ditentukan dalam ritual tarekat secara tertib, rinci dan ketat. Kata Kunci: Bahasa Sufistik, Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah Ponpes Darussalam