Living Qur'an di Tanah Kaili (Analisis Interaksi Suku Kaili Terhadap Alquran dalam Tradisi Balia di Kota Palu, Sulawesi Tengah)

Abstract

Artikel ini mengelaborasi tentang living qur’an di Tanah Kaili dengan fokus kajian analisis interaksi masyarakat suku Kaili dengan Alquran dalam tradisi pengobatan Balia. Kajian ini sangat penting karena tradisi Balia merupakan ritual lokal suku Kaili yang sangat kental dengan nuansa mistis dan animisme. Di sisi lain, Alquran dalam prosesi Balia tersebut mengambil peran yang sangat besar. Melalui penelitian kualitatif, penulis ingin mendalami bagaimana bentuk interaksi mereka serta apa motivasi di balik perilaku tersebut. Dengan demikian, penulis menganalisis perilaku masyarakat dengan teori sosial seperti teori polarisasi interaksi Farid Esack, teori mitos M. Arkoun, serta teori van Voorst. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi masyarakat Kaili dengan Alquran dalam tradisi Balia nampak dalam tiga fase, yaitu di awal Balia, di tengah dan di akhir Balia. Sementara interaksi tersebut selain didasari semangat keislaman, juga acapkali sebagai bentuk adaptasi dan asimilasi nilai-nilai Alquran ke dalam tradisi. Adapun ketegorisasi mereka dari pemahaman dan perilaku terhadap kitab suci Alquran termasuk pencinta tidak kritis (the uncritical lover) dalam konsep Farid Esack, serta termasuk pengguna kognitif dalam kondisi tertentu dan di saat yang lain ia termasuk pengguna non-kognitif dalam teori van Voorst.