Paradigma Pemikiran Tasawuf Teo-Antroposentris Abdurrahman Wahid dan Relevansinya dalam Konteks Kekinian

Abstract

Tulisan ini mencoba untuk menelusuri akar pemikiran tasawuf Abdurrahman Wahid dan relevansinya dengan konteks sosio-historis masyarakat Indonesia yang plural dan multikultural. Abdurrahman Wahid sebagai salah seorang tokoh pembaru keislaman di Indonesia dikenal sebagai cendekiawan multitalenta. Ia dikenal sebagai seorang budayawan, intelektual Islam garda depan, dan juga poltikus ulung dalam dunia perpolitikan di tanah air. Dalam ranah ini, telah banyak yang mengkaji pemikirannya. Dalam kapasitasnya sebagai seorang Kiai yang memiliki kedalaman spiritualitas yang diakui, bisa dikatakan masih minim penelitian dan karya anak bangsa yang mengkaji pemikiran tasawufnya. Dalam keyakinan penulis, Abdurrahman Wahid adalah seorang asketis, sufi, dan zahid di era kekinian. Dalam konteks inilah, penulis tertarik untuk mencoba memberanikan diri menguak sisi pemikiran Gus Dur di ranah tasawuf yang masih tak terpikirkan. Dari upaya penelusuran ini, ditemukan bahwa paradigma pemikiran tasawuf Abdurrahman Wahid bercorak teo-antroposentris-transformatif. Dari temuan ini, pada tahap selanjutnya, pemikiran tasawufnya diproyeksikan untuk menjadi salah satu alternatif jawaban dalam dunia global dan milenial yang semakin sepi dan kering dari nilai-nilai spiritual.