PEMIKIRAN KALAM SYEKH ABDUL QODIR AL-JAILANI

Abstract

Di akhir abad V dan awal abad VI yang berada dalam pergolakan poltik yang hebat memberikan pengaruh tersendiri dalam karakter berfikir maupun pola hidup masyarakat, tidak terkecuali para tokoh dan ulama muslim. Kenyataan ini tidak menyeret Abdul Qadir ke dalam kelamnya kebodohan dan ketidak berdayaan. Justru keadaan ini menjadikannya pribadi yang penuh dengan keyakinan, optimis dan senentiasa membangun jiwa maupun keilmuanAl-Jailani mengajarkan:  berbagai disiplin ilmu keislaman, seperti Tauhid, Fiqih, Tafsir, hingga Tasawuf. Dalam bidang Tauhid ia mengajarkan secara garis besar ketauhidan yang dibangun olehnya sama dengan konsep Ahlu Sunnah wal jama’ah. Dalam masalah kenabian ia mengharuskan umat islam harus meyakini Muhammad bin Abdullah adalah Rasulullah dan pemimpin para Rasul serta penutup para Nabi, tidak ada nabi sesudahnya. Tentang kiamat, ia mengajarkan akan ada pembalasan bagi seluruh manusia. Ruh para syuhada’ dan orang-orang mukmin akan datang menemui jasadnya lagi ketika peniupan ruh yang kedua ke bumi untuk klarifikasi dan penghitungan amal. Dalam hal Bid’ah  ia menegaskan, bahwa tidak ada keberuntungan hingga umat islam mengikuti al-Kitab dan al-Sunnah. Lebih lanjut ia menegaskan pentingnya mengikuti ulama’ dalam memahami nash-nash al-Qur’an dan sunnah. Terhadap pemimpin ia mengajarkan konsep kehidupan sosial politik Aahlu Sunnah wal Jama’ah, bahwa umat harus mendengar dan mentaati pemimpin Islam, mengikuti mereka, shalat di belakang mereka, baik pemimpin yang adil, jahat, maupun lalim, baik orang yang menggantinya maupun orang yang yang mewakilinya.