DETEKSI KANDUNGAN GEN SITOKROM B (Cyt b)BABI PADA BAKSO YANG BEREDARDI KOTA JAMBI MENGGUNAKAN TEKNIK POLYMERASE CHAIN REACTION

Abstract

Daging babi merupakan sumber protein hewani yang harganya murah dan mudah diperoleh di pasaran. Daging babi sering digunakan sebagai campuran bakso, siomay dan bakmi goreng.Salah satu makanan olahan yang berpotensi tercemar daging babi adalah bakso. Bakso merupakan makanan siap saji yang sangat populer diseluruh Indonesia. Proses pembuatan bakso oleh produsen dimungkinkan dicampur dengan daging babi yang bertujuan untuk menurunkan harga produksi tetapi harga jual tetap tinggi, serta meningkatkan cita rasa. Pencampuran ini tidak disertai informasi yang jelas kepada masyarakat, sehingga masyarakat tidak mengetahui produk olahan tersebut mengandung babi, padahal masyarakat muslim diharamkan mengkonsumsi daging babi dan beberapa golongan masyarakat juga mempunyai hipersensitivitas atau intoleran terhadap daging babi. Kasus makanan mengandung bahan dari babi marak terjadi di Indonesia sejak tahun 1980-an sampai sekarang. Pada tahun 2010, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jambi melalui Laboratorium Keswan dan Kesmavet kembali menemukan kasus positif bakso babi di Kota Jambi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental dengan cara mendeteksi gensitokrom b (cyt b) sebagai penanda gen babi pada 13 sampel bakso menggunakan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). Didapatkan hasil yang negatif dari 13 sampel, ini terbukti dari penampakan pita DNA sampel yang muncul tidak sejajar dengan pita DNA kontrol positif (daging babi). Sehingga produk makanan olahan ini masih aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat di Kota Jambi Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa pada hasil isolasi DNA dari 13 sampel bakso yang beredar di Kota Jambi yang dideteksi menggunakan teknik Polymerase Chain reaction tidak ditemukan gen cytochrome b sebagai penanda gen babi