KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM AL-QUR’AN (Kajian Surah An-Naml, 23-26)

Abstract

Fenomena penting yang mewarnai era transformasi masyarakat global saat ini adalah menguaknya wacana tentang kepemimpinan perempuan. Baik dikaji dari segi ranah politik, ekonomi, sosial dan agama kepemimpinan Perempuan telah menjadi discursus yang menuntut untuk segera dibumikan, tidak hanya menjadi wacana yang melangit saja. Dalam Islam setidaknya ada dua landasan yang bisa dijadikan referensi yaitu Pertama, Hadist Bukhori dan shokhih periwayatanya, menyatakan bahwa tidak akan berhasil suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinannya kepada perempuan. Kedua, ada informasi dari Al-Qur’an pada surah An-Naml tentang seorang perempuan yang sukses memimpin negaranya. An essential phenomenon that gives color to the global society transformation period at present time is the revelation about discourse on female leadership. Through the study based on political, economic, social, and religious field, Women have become discourses that demand acceptance, not merely an out of reach discourse. In Islam, two bases considered as references related to this discourse include, First, Hadist Bukhori and its narrative shokhih which states the unsuccessfulness of particular community who trusts the leadership to women. Second, the availability of information contained in Al-Qur’an particularly in surah An-Naml about a woman who was successful in leading her nation.