KONFLIK SOSIAL DALAM HUBUNGAN ANTAR UMAT BERAGAMA

Abstract

Abstract; Konflik, terutama yang mengambil bentuk kekerasan telah menjadi kajian banyak psikolog terutama dalam kaitannya dengan aspek-aspek internal manusia. Sigmund Freud misalnya memandang konflik atau kekerasan sebagai wujud frustasi dari suatu dorongan libidinal yang bersifat dasariyah. Dalam perspektif negatif, konflik antara umat beragama dan antara agama orang di Indonesia tampaknya terus menjadi ancaman. Tampaknya, hidup harmoni atau salam ke arah kehidupan masih sulit untuk membuat. Mengapa manusia Indonesia yang agamanya, berpancasila, yang terus membangun jiwa, dan tubuh masih rentan untuk menyakiti satu sama lain, tidak hanya secara fisik tetapi juga fsikis. Mengapa agak sulit untuk membangun hubungan sosial yang sopan, toleran, egaliter? Apakah karena konstruksi sosial bangsa ini tidak benar? Apakah pandangan keagamaan juga berperan dalam memicu konflik-konflik ini? Atau jangan biarkan manusia yang secara naluriah membawa potensi konflik? Ketidakmampuan untuk menerjemahkan pesan wahyu, yang mengakibatkan hilangnya orientasi atau ketidakpastian dan bahkan putus asa. Ini adalah salah satu masalah agama, yaitu masalah makna. Masalah ini menjadi salah satu yang bisa menjadi salah satu alasan bagi keselarasan hidup sulit untuk membuat dalam bentuk sebenarnya. Banyak upaya telah dilakukan untuk mengurai dan mencari sebab agresifitas masyarakat Indonesia yang dahulu dianggap sebagai bangsa yang beragama, santun dan lain-lain. Penyebab konflik dapat berupa faktor politik, kesenjangan ekonomi, kesenjangan budaya, sentimen etnis dan agama. Hanya saja, faktor ekonomi dan politik sering ditunjuk berperan paling dominan dibanding dua faktor yang disebut terakhir. Kata Kunci: Konflik, Hubungan Sosial Conflict, particularly those taking the form of violence has been the study of many psychologists, especially in relation to the internal aspects of human. Sigmund Freud for example looking at violence as a form of conflict or frustration of a libidinal impulse that is dasariyah. In a negative perspective, the conflict between religious communities and between religions in Indonesia seems to continue to be a threat. Apparently, living in harmony or greeting towards life is still difficult to make. Why Indonesian man whose religion, berpancasila, which continues to build up the soul, and the body is still vulnerable to hurt each other, not only physically but also fsikis. Why is rather difficult to establish social relationships polite, tolerant, egalitarian? Is it because of the social construction of race is not true? Is religious views also play a role in triggering these conflicts? Or do not let the man who instinctively bring potential conflict? Inability to translate the message of revelation, which resulted in the loss of orientation or uncertainty and even despair. It is one of the religious problem, namely the problem of meaning. This issue is one that could be one reason for the harmony of life is difficult to make in its true form. Many attempts have been made to break down and look for the Indonesian people because aggressiveness formerly regarded as a religious nation, polite and others. The cause of the conflict may be political, economic disparities, gaps cultural, ethnic and religious sentiments. However, economic and political factors are often assigned the role of the most dominant than the latter two factors. Keywords: Conflict, Social Relations