POLEMIK DALAM MENGGAGAS METODOLOGI STUDI AGAMA

Abstract

Sebuah pemikiran sejatinya lahir dari sebuah proses berpikir yang dilatarbelakangi oleh setting sosio-politik yang melingkupinya. Dalam pendekatan sosio-historis (socio-historical approach) dalam studi Islam, sebuah pemikiran, gagasan, idea, atau pandangan tertentu terhadap sebuah gejala atau fenomena yang hidup harus dilihat sebagai sebuah respon intelektual seorang pemikir terhadap fenomena sosial kemasyarakatan dan problem-problem politik yang dihadapinya. Penelitian ini bertujuan menyingkap polemik yang terjadi antar pemikir dan cendekiawan baik dari kalangan Islam maupun dari luar Islam terkait gagasan-gagasannya mengenai Metodologi Studi Islam. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif, yang menitikberatkan pada studi kepustakaan (library research) dengan menggunakan model deskriptif-analitis. Penelitian ini menunjukan bahwa: 1). Untuk mendekati dan memahami fenomena alam dibutuhkan prasyarat tertentu secara akademik-ilmiah terlebih dalam hal yang menyangkut realitas keberagamaan manusia; 2). Alasan mengapa agama sulit dijadikan objek kajian ilmiah karena objektivikasi dalam kajiannya tidak hanya dilakukan kepada “pihak lain” (outsider) tetapi juga kepada dirinya sendiri. Oleh karena itu betapapun kerasnya usaha untuk menjaga jarak dari obyek yang diteliti (Islam), subyektifitasnya lebih kentara ketimbang objektifitasnya; 3). Agama dipahami sebagai sesuatu yang suci, sakral dan agung, maka jika diposisikan sebagai objek netral, akan dianggap mereduksi, melecehkan, bahkan merusak nilai tradisional keagamaan; 4). Terdapat tarik ulur pemikiran di kalangan cendekiawan dan pemikir-baik dari kalangan muslim atau pun non-muslim-dalam merumuskan sebuah metodologi yang dapat disepakati bersama