Perseteruan Voltaire terhadap Islam dan Nabi Muhammad

Abstract

Islam in Western thought has a very bad brand image and relative image. One western figure named Voltaire included an orientalist who insulted the Prophet Muhammad and the religion of Islam. The study aimed to find out specifically about Voltaire's understanding of the Prophet Muhammad and the religion of Islam, factors that influenced Voltaire in committing insults. The approach of the method chosen in this study is qualitative method, while the data used is sourced from literature review in the form of works written by Voltaire himself and the works of others on the work and thoughts of Voltaire. The results of the study said Voltaire initially hated Islam by mentioning the nascent religion and also called the Prophet Muhammad as a perverted many marrying women, girls and widows. Voltaire's reason for doing so was that he wanted to criticize the church's inappropriate policies through the issue of insulting Islam and the Prophet Muhammad. At the end of his history Voltaire upheld the tolerance of Islam and did not exist in Protestantism that is, Caliph Umar allowed Jews and Christians full freedom of conscience after the conquest of Jerusalem.AbstrakAgama Islam dalam pemikiran Barat mempunyai brand image dan citra relatif yang sangat buruk. Salah satu tokoh Barat yang bernama Voltaire termasuk seorang orientalis yang menghina Nabi Muhammad dan agama Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara khusus tentang pemahaman Voltaire terhadap Nabi Muhammad dan agama Islam dan faktor yang mempengaruhi Voltaire dalam melakukan penghinaan. Pendekatan metode yang dipilih dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Adapun data yang digunakan bersumber dari telaah kepustakaan berupa karya-karya yang ditulis sendiri oleh Voltaire dan karya-karya orang lain terhadap karya dan pemikiran Voltaire. Hasil penelitian menyebutkan Voltaire pada awalnya membenci Islam dengan menyebut agama yang baru lahir dan Nabi Muhammad sebagai seorang yang mesum dan menikah dengan  banyak perempuan, baik gadis maupun janda. Alasan Voltaire berpendapat demikian karena dia ingin mengkritik kebijakan-kebijakan gereja yang tidak sesuai, menurutnya melalui isu menghina Islam dan Nabi Muhammad. Pada akhir hidupnya, Voltaire menjunjung tinggi toleransi yang ada pada agama Islam dan tidak ada pada agama Protestan seperti Khalifah Umar mengizinkan kebebasan dalam pelaksanaan agamanya bagi orang beragama Yahudi dan orang beragama Kristen, hal ini terjadi setelah penaklukkan Yerusalem.