ANALISIS PENAFSIRAN TERHADAP SURAT AL-MA’IDAH : 38 DALAM AL-QUR’AN (A Reformist Translation)

Abstract

Abstak Tulisan ini mengkaji terjemahan surat al-Ma’idah ayat 38 yang berbicara tentang hukum pencuri dalam Qur’an A Reformist Translation.Faqt}a‘u> aidiyahuma>pada ayat tersebut menurut Yuksel, dkk memiliki tiga arti, cut or mark hands (melukai atau menandai tangan), cut off hands (memotong tangan), dan cut off means memutus maksud atau niatan.Dengan demikian, hukuman bagi pencuri dapat diterapkan salah satu atau kombinasi dari ketiga arti tersebut. Analisis yang digunakan adalah analisis linguistik dengan cara interteks yakni dengan memperhatikan kata yang berakar sama. Pencantuman tiga arti ini menjadi bukti bahwa mereka tidak konsisten sebab hanya digunakan untuk ayat ini. Sementara itu, pada ayat lain yang memuat kata yang sama hanya diberikan satu arti. Walaupun analisisnya berdasarkan linguistik (cut or mark dan cut off hands), tetapi secara tidak sadar mereka telah melakukan analisis hermeneutik (cut off means). Kata kunci: Qur’an Reformist, Edip Yuksel, terjemah, tafsir, potong tangan This article is focused on translation of sura al-Ma’idah: 38 which is talking about punishment for a thief in Qur’an A Reformist Translation. Faktha’u aidiyahuma on the verse according to Yuksel and colleagues has three meaning namely cut or mark hands, cut off hands, and cut of means. Thereby, one of them can be applied or combined for a thief punishment. They use linguistic analysis by intertext which is noticing the words which have the same root of the word. Giving three meaning is a proof that they are not consistent because it is limited for the verse. Meanwhile, on another verses which has same word only contain one meaning. Although their analysis is based on liguistic (cut or mak and cut off hand), but they unconscioiusly have done hermeneutic analysis (cut off means). Key words : Qur’an Reformist, Edip Yuksel, Translation, tafseer, cut off hand,