ZABĪH ALLĀH DALAM TAFSĪR AL-KABĪR MUQĀTIL BIN SULAYMĀN

Abstract

Seperti yang kita ketahui, Nabi Ibrahim adalah bapak dari 3 agama samawi, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam. Dari keturunannya lahirlah para nabi. Dari keturunan Ishaq lahir Nabi Musa dan Nabi Isa, dan dari keturunan Ismail lahir Nabi Muhammad. Karena itu, tidak heran jika kisah penyembelihan oleh Ibrahim juga terdapat di dalam kitab Perjanjian Lama yang diyakini sebagai (salah satu) kitab suci agama Yahudi dan Nasrani. Hanya saja, di dalam Kitab Perjanjian Lama dengan tegas disebutkan bahwa putera Ibrahim yang disembelih itu adalah Ishaq. Al-Qur’an sendiri tidak dengan tegas menyebutkan siapa putra Nabi Ibrahim yang disembelih, apakah Ismail atau Ishaq. Sebagian besar para ahli tafsir meyakini — sebagaimana yang diyakini oleh hampir semua umat Islam — bahwa yang disembelih itu adalah Ismail. Namun, pendapat yang menyatakan bahwa Ishaq yang disembelih juga tidak bisa dikesampingkan. Siapapun yang disembelih, peritiwa ini menunjukkan betapa Allah SWT menguji Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra yang sangat dia kasihi. Pada akhirnya memang tidak terjadi penyembelihan anak manusia, karena Allah SWT menggantinya dengan qibas (semacam domba) sebagai bukti pengorbanan Nabi Ibrahim a.s dan sebagai bukti Nabi Ibrahim beriman kepada-Nya. Selanjutnya pada tulisan ini akan dibahas mengenai siapakah yang dimaksud żabih Allah dalam Tafsīr al-Kabīr karya Muqātil bin Sulaimān, dan kedudukannya dalam politik identitas komunitas Islam awal. Muqātil dalam tafsirnya dengan tegas berpendapat bahwasannya yang hendak disembelih oleh Nabi Ibrahim adalah Nabi Ishaq karena Nabi Ibrahim diberi kabar gembira dengan akan dilahirkannya Nabi Ishaq. Dengan argumen ini juga Imam al-Tabari berpendapat bahwasannya yang hendak disembelih adalah Nabi Ishaq. Hilangnya pendapat ini dalam buku-buku tafsir ternyata beriringan dengan proses pembentukan identitas komunitas Muslim generasi awal yang salah satu agenda besar awalnya adalah diferensiasi.