INTERPRETASI HAMKA TENTANG UMMATAN WASATHAN DALAM TAFSIR AL-AZHAR

Abstract

Di samping mengatur hidup manusia secara individu, Al-Qur’an juga mengatur hidup manusia dalam hidup bermasyarakat. Hadirnya Al-Qur’an bertujuan untuk menciptakan ummatan wasathan, yaitu umat yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Tulisan ini membahas tentang interpretasi Hamka tentang ummatan wasathan dalam Tafsir Al-Azhar. Tulisan ini merupakan studi pustaka. Penulis menggunakan metode deskriptif dan analitis. Tulisan ini mengungkapkan bahwa penafsiran Hamka tentang ummatan wasathan dalam Tafsir Al-Azhar secara umum Hamka menggunakan metode tahlili. Adapun bentuk penafsirannya adalah lebih dominan menggunakan tafsir bi al-ra’yi. Penafsiran Hamka tentang ummatan wasathan ini bercorak adabi ijtima’i (sosial kemasyarakatan). Ummatan wasathan menurut Hamka adalah umat yang berada di tengah, yang tidak tenggelam dalam kehidupan duniawi dan tidak pula larut dalam spiritualitas, dan umat yang senantiasa menempuh jalan yang lurus (shirathal mustaqim). Adapun yang menjadi karakteristik ummatan wasathan adalah: umat yang beriman kepada Allah SWT, umat yang berkeadilan, umat yang berkeseimbangan, umat yang memiliki kejujuran, umat yang memiliki keberanian, umat yang memiliki kebijaksanaan, umat yang menjunjung tinggi nilai-nilai persaudaraan, dan umat yang menempuh jalan yang lurus. Adapun tugas-tugas dari ummatan wasathan adalah: mengerjakan amr ma’ruf, mencegah kemungkaran, dan menjadi saksi bagi seluruh manusia.