MEWUJUDKAN PENAFSIR OTORITATIF: OPTIMALISASI TAFSIR NUSANTARA SEBAGAI UPAYA REDUKSI GERAKAN RADIKAL

Abstract

Indonesia memiliki ciri khas keislaman tersendiri dibanding negara asalnya, jazirah Arab. Masuknya Islam ke Indonesia juga memiliki cara-cara yang lebih halus, perniagaan dan budaya. Islam masuk ke Indonesia sama halnya dengan pertama kali Islam disebarkan di jazirah Arab, memiliki tokoh utama yang menjadi penyebab tersebarnya Islam. Wali Songo di tanah jawa merupakan salah satu contoh bagaimana Islam dengan ajarannya bisa diterima dengan baik. Sentralitas tokoh dalam hal ini, merupakan fungsi dari kemampuan individu dalam mempengaruhi suatu komunitas atau kelompok. Menurut Kurt Lewin, tarik menarik antara individu dan kelompok/lingkungan akan menciptakan sebuah perilaku tersendiri. Keberhasilan Nabi Muhammad terbilang sebagai personal yang mampu mempengaruhi environment (B=f(p.e)). Hal ini juga telah dibuktikan dengan ‘keberhasilan’ tokoh-tokoh gerakan radikal yang mampu membuat penafsiran sendiri untuk membenarkan ideologi mereka dan mengajak orang lain untuk masuk kelompok mrereka. Penelitian ini bertujuan untuk menggalakkan kembali tafsir-tafsir keindonesiaan sebagai sebuah sumber untuk menangkal gerakan-gerakan radikal akibat penafsiran parsial. Keberadaan tafsir-tafsir al-Qur’an khas indonesia tidak hanya menjadi ranah akademik, namun perlu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk respon kedaerahan terhadap lingkungan masing-masing.