Mengkaji Nilai Salam Dalam Al-Qur'an (Kajian Tafsir Tematik)

Abstract

Artikel ini mengkaji nilai salam dalam al-Qur’an melalui pendekatan tafsir tematik. Dari kajian yang dilakukan terhadap aayat-ayat salam dalam al-Qur’an dapat diketahui bahwa ucapan salam sejahtera disampaikan Allah swt. kepada para nabi-Nya, antara lain, nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Harun dan Il-Yaasin, termasuk nabi Muhammad yang mereka sudah berhasil dalam menjalankan tugas masing-masing. Sebaliknya, nabi Isa menyampaikan salam do’a kepada Allah memohon keselamatan pada tiga pergantian hidup yaitu sewaktu dilahirkan, sewaktu dimatikan dan sewaktu nanti kelak menghadap Allah di padang Mahsyar. Dengan demikian, ternyata nilai salam begitu tinggi dalam pandangan Islam. Juga terdapat salam di kalangan masyarakat Jahiliyah apabila mereka bertemu dengan sesama temannya, yaitu “Hayakallah” artinya semoga umurmu panjang. Selain itu terdapat juga salam di kalangan orang Yahudi munafiq yang didasari permusuhan kepada nabi suatu salam yang tidak diajarkan Nabi kepada mereka yaitu “Assamu’alaikum” artinya semoga engkau celaka”. Seterusnya salam perdamaian diperintahkan Nabi agar disebarluaskan di kalangan masyarakat Islam dari yang muda kepada yang tua dari yang sedikit kepada yang banyak, dari yang berjalan kepada yang duduk, dari yang berkenderaan kepada yang berjalan kaki, dari yang melihat kepada yang tidak melihat, dari murid kepada guru, dari bawahan kepada atasan dan lain sebagainya. Problematika salam saat ini adalah lebih dimasyarakatkan oleh kalangan bawah dibandingkan kalangan atas sehingga hal itu menimbulkan kesan bahwa salam dalam Islam bernilai rendah padahal yang semestinya bernilai tinggi